Senin, 06 Juni 2016

Gathering in Ramadhan



CSSMoRA UPI

Bulan ramadhan merupakan bulan yang istimewa, bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat islam, bahkan dalam hadist Rasulullah sampai berdoa agar bisa sampai dan merasakan bulan Ramadhan. Begitu juga dengan kami pengurus CSSMoRA UPI sangat menunggu dan menyambut masuknya bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, kami menyambut bulan Ramadhan ini dengan mengadakan sebuah acara yang bernamakan Gathering in Ramadhan.

Acara Gathering in Ramdhan ini dilaksanakan pada hari Senin, 06 Juni 2016. Bertempat di kediaman/rumah CSSMoRA UPI angkatan 2012. Sebenarnya agenda yang sudah dijadwalkan yaitu dimulai pada pukul 17.00, namun karena cuaca yang kurang bersahabat, sehingga mengakibatkan banyak panitia dan peserta yang terlambat hadir di tempat acara yang akan berlangsung.


Acara dimulai pada pukul 17.25, walaupun suasana kurang kondusif karena hujan. Namun, acaranya tetap dilaksanakan. Acara ini diketuai oleh Maidiati (CSSMoRA 2014). Karena pembukaan yang terlambat mengakibatkan beberapa acara ada yang tidak sesuai dengan jadwal, maka beberapa acarapun ada yang tidak dilaksanakan, karena masih banyak peserta yang belum hadir ke tempat acara pada saat itu, dan juga mengingat waktu yang sudah memasuki waktu magrib, sehingga acara di cancel dan dilanjutkan ke acara buka bersama dengan menu berbuka Es campur dan Gorengan.


Ba’da magrib, acara dilanjutkan dengan makan bersama dan dilanjutkan dengan penampilan iklan ramadhan dari setiap angkatan. Angkatan 2015 diwakili oleh Rahmatia, Aufa, dan Rafika, Angkatan 2014 diwakili oleh Meidiati, Ummu, dan Laila Isrofatun, dan Angkatan 2012 diwakili oleh Ridwan, Rian, dan Syafa.


Acara ini dimaksudkan untuk menyambut bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat yang mana acara ini juga menjadi sebuah sarana bagi seluruh keluarga CSSMoRA UPI untuk mempererat tali silahturahim terutama yang menjalani Ramadhan di Bandung. Acara di tutup dengan khidmat melalui pembacaan Doa yang dipimpin oleh kakak kita tercinta Husni Mubarok.


Penulis : Aufa Hilman Furqon



Share:

Minggu, 05 Juni 2016

Say No to Pacaran


Say No To Pacaran

Di zaman yang semakin bubrah ini, tentu banyak faktor yang menyebabkan kebubrahan itu. Salah satunya adalah tradisi Nggandeng Pacar (dalam bahasa jawa). Siapa yang tidak tahu dengan istilah pacaran di zaman ini, anak yang baru duduk di bangku SD saja sudah mengenal istilah itu, bahkan anak kecil yang baru bisa bicara pun sudah mengenal istilah pacaran karena sering mendengar dari kakaknya. Bagaimana dengan yang sudah remaja, pacaran bahkan sudah menjadi tradisi di kalangan muda-mudi zaman sekarang.

Kata mereka, yang telah menjalani status berpacaran, siapa yang tidak punya pacar, belum bisa dikatakan seorang remaja.  Katanya pacaran penambah semangat belajar. Katanya, pacaran adalah ajang bertukar cerita tentang pribadi masing-masing, tempat curahan hati hingga satu sama lain mengetahui seluk beluk kita, bahkan rahasia pribadi kita. Katanya pacaran adalah latihan awal dari pernikahan, latihan mencari calon istri dan calon suami yang cocok dan baik, berarti kalau begitu, secara tidak langsung mereka sudah mempunyai niatan untuk berganti-ganti pacar  hingga mendapatan yang cocok sesuai yang diidam-idamkan. Lantas kalau sudah cocok, apakah mereka dijamin akan langsung ke pelaminan? Apakah pacaran yang sekian lamanya terjalin menjamin terbentuknya keluarga yang bahagia?

Belakangan kian sering terdengar kisah-kisah rumah tangga yang hanya bertahan seumur jagung. Padahal, tak sedikit di antara mereka yang sudah menjalani masa pacaran sekian lama. Tapi seperti diutarakan oleh psikologi Zainoel Biran alias Bang Noel, kama sebentarnya masa pacaran, sama sekali tidak bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan atau kegagalan perkawinan. “Yang lebih penting, justru seberapa efektif kedua belah pihak menghayati pacaran sebagai masa untuk mencoba saling mengenal lebih baik secara person to person.

Selain itu, boleh jadi selama masa berpacaran yang lama tadi memang tidak terpikirkan niat untuk menjalin sebuah rumah tangga. Kalaupun akhirnya menikah, menurut saya itu terlebih dikarenakan sebuah pikiran bahwa mereka sudah lama berpacaran, hingga motivasi mereka untuk membangun rumah tangga tak lain keterpaksaan akibat terbebani oleh lamanya hubungan atau mungkin karena faktor lain seperti MBA. Na’udzubillahi min dzalik.

Cobalah sekarang kita bandingkan antara sisi positif dari pacaran dan dari sisi negatifnya. Pasti kita banyak menemukan dari sisi negatifnya ketimbang dari sisi positifnya. Sekarang kita coba menyebutkan sisi negatifnya. Menurut saya dan beberapa orang yang sepemikiran dengan saya bahwa yang ada dalam proses berpacaran hanyalah kedustaan. Cobalah kalian bertanya kepada teman-teman yang sudah berpengalaman dalam berpacaran dan akhirnya putus.

Bagaimana tidak berisi kedustaan, di setiap akan berkencan atau hanya sekedar bertemu sebentar saja, si wanita akan selalu berdandan cantik di hadapan sang kekasih, berkata lemah lembut, padahal belum tentu si wanita berkata lembut kepada orang tuanya. Selalu tersenyum manis ketika berhadapan dengan kekasihnya. Wajah yang hitam ditutup-tutupi dengan menggunakan make up, bahkan ada wanita yang rela mengorbankan uangnya hanya untuk pergi ke salon untuk menjalani perawatan dari atas rambut hingga ujung kaki demi mendapatkan pujian dari sang keksaih.Padahal semua itu adalah kedustaan, semua dilakukan hanya semata-mata agar terlihat sempurna di hadapan sang kekasih. Astaghfirullahal’adzim.

Tidak jauh berbeda dengan si lelaki, dia akan selalu menampakkan penampilannya yang keren, baju selalu klimis, bertolak belakang dengan baju si wanita yang selalu memperlihatkan lekuk tubuhnya, justru si lelaki menutup rapat lekuk tubuhnya dengan berdandan rapi ala mafia, lengkap dengan dasi dan jas hitam, rambut klimis, licin dan bersih (kata adaband). Tidak lupa sentuhan parfume yang membuat si wanita selalu mendekatinya. Astaghfirullahal’adzim.

Selama seseorang mengenakan topeng kedustaan tersebut, berarti selama itu pula mereka belum memiliki kepercayaan pada pasangan. Di hati kecilnya pasti terselip kekhawatiran, suatu saat bakal dikecewakan atau tak diterima sepenuhnya. Padahal, kebiasaan mengenakan topeng kedustaan membuat kita jadi tidak cukup sensitif untuk mengenal pasangan. Bisa juga karena niatnya memang tidak tulus untuk membangun suatu relasi. Semisal niat untukmorotin (matre’), ajang balas dendam, mencari popularitas yang bisa memberinya kebanggaan tersendiri atau motivasi lainnya.

Setelah saya mewawancarai beberapa teman saya yang telah mengalami putus cinta, faktor utama yang menyebabkan kerenggangan itu adalah rasa kecemburuan dari kedua belah pihak. Entah karena si wanita sering menghubungi teman lelaki yang lainnya atau si lelaki yang juga diam-diam mempunyai selingkuhan. Dari sini mulai timbul rasa saling mencurigai satu sama lain. Rasa kepercayaan terhadap pasangan mulai hilang. Akhirnya, mereka jarang berkomunikasi. Kerap saya membaca status alay di media sosial yang menggabarkan suasana hati mereka terhadap sang pasangan,“tolong ngertiin aku dong!”, “kamu nyakitin perasaanku tau nggak sih”, “dasar cewek murahan!”, “dasar buaya darat!”, “kamu selingkuhin aku!”, “sakitnya tuh di sini!”, “dasar cewek matre, “ternyata kamu selama ini Cuma pengen uang aku”, dan lain sebagainya. Tidak jarang dari kalian merasa malu dan risih membaca status-status alay di media sosial. Astaghfirullahal’adzim.

Selain itu, tak jarang saya mendapati teman yang putus cinta karena terlalu sering melakukan kontak entah itu dari media telphon, sms, line, blackberry massanger, whatsapp, parth, facebook, dan lain sebagainya, yang menyebabkan banyaknya terjadi kesalah pahaman. Mungkin di karenakan salah dalam mengungkapkan isi hati, salah dalam intonasi ketika berbicara atau yang lainnya. Dan akhirnya berujung pada berakhirnya status berpacaran mereka. Akan tetapi, tak jarang juga mereka putus hanya beberapa waktu saja, mungkin semalam putus, keesokan harinya sudah menyambung lagi. Lucu sekali.

Ada kejadian lain yang saya temukan di kalangan teman-teman saya. Dia sempat putus karena menjadi korban cuek dari pacarnya. Dia sudah panjang lebar bertanya seperti ini seperti itu pada pacarnya lewat media sosial, ternyata si lelaki hanya menjawab dengan satu huruf “T” (teu”:tidak), “TC” (teuacan:belum), yang akhirnya membuat  pihak wanita jengkel dan merasa tidak diperhatikan. Ujung-ujungnya si lelaki minta putus, padahal yang merasa tersakiti adalah dari pihak wanita. Tetapi anehnya, si cewek tidak mau hubungannya berakhir, padahal sudah tahu bahwa si lelaki kurang perhatian pada dia. akhirnya malam itu putus, pihak wanita sampai tidak berhenti menangis, dan keesokan harinya status berpacaran terjalin lagi. Saya sempat heran dengan kejadian ini, bagaimana bisa status berpacaran itu cepat sekali terjalin kembali. Bagaimana cara mereka memulainya kembali? Saya menyerah tentang hal itu.

Menurut saya berpacaran adalah hal yang mebuang-buang waktu saja dengan tidak kejelasan masa depan. Dengan berpacaran tidak menjamin hidup kita selalu berwarna. Tak jarang dari beberapa teman yang saya tanyakan tentang hal ini menjawab, berpacaran hanya membuat diri kita sakit hati nantinya. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hubungan itu. Apalagi yang menjalani masih belum cukup matang emotionalnya. Masih labil, masih belum bisa berpikir tentang masa depan, yang dipikirkan hanyalah senang sekarang. Berpacaran hanya membuang-buang uang saja. Tradisi  yang dilakukan setiap sang pacar ulang tahun adalah memberi kejutan-kejutan yang manis ala  anak muda. mengasih coklat, boneka, membuat surprise di tempat-tempat romantis, mengajak jalan-jalan, shoping dan lain sebagainya. Padahal status mereka hanya berpacaran. Bagaimana jika sampai ke pelaminan, saya menjamin  tak jarang dari mereka bosan melakukan hal-hal seperti itu. Memberi kado, kejutan, berdandan yang cantik di hadapan suami, bersikap yang manis satu sama lain. Hal ini dikarenakan mereka sudah biasa melakukannya di masa-masa pacaran, hingga akhirnya bosan ketika sudah menjalani rumah tangga.

Pada akhirnya kita mengetahui bahwa cinta itu memang fitrah bagi setiap manusia. Tetapi cinta juga tida harus di umbar kemana-mana seperti berpacaran. Pacaran menurut teori teori benar adalah tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Untuk itu saya mengajak kalian untuk menghapuskan tradisi berpacaran di kalangan muda-mudi. Karena sekarang stok wanita dan lelaki single sudah langka sekali. Single disini diartikan bagi mereka yang memiliki paham say no to pacaran, and say yes to ta’arufan. Mulai dari sekarang, bagi kalian-kalian yang masih berpacaran, sadarlah akan hal ini. Berpacaran tidak menjamin hidup dan masa depan kita baik dan bahagia. Katakan pada pasangan kalian masing-masing “say no to pacaran, and say yes to ta’arufan”.

Penulis : Dewi Indah Dahlia

Share:

Ismail Fajrie Alatas


Ismail Fajrie Alatas

 “ A journey of a thousand miles must begin with a single step.”
“ Sebuah perjalanan seribu mil harus dimulai dengan satu langkah.”

Inilah sebuah kata-kata motivasi yang cocok untuk seorang Ismail Fajrie Alatas kelahiran Semarang, 18 September 1983, bahwasanya setiap perjalanan yang kita tempuh pasti diawali dengan langkah kecil atau usaha kecil untuk selalu mencoba dan mencoba mencapai suatu hal yang kita impikan. Beliau berhasil mancatatkan namanya sebagai orang indonesia yang sukses dan berhasil menempuh pendidikannya di luar negeri yang hanya mengandalkan beasiswa.  

Beliau menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Pertama Al-Ikhlas, Jakarta dan melanjutkan studinya di luar negeri pada tahun 1999 - 2001 Sekolah Menengah Atas Khalid Islamic College of Victoria, Australia lulus dengan Baccalaureate Diploma Internasional, 2002 - 2005 Bachelor of Arts dengan Honours (kelas), jurusan sejarah Universitas Melbourne, Australia. 2006 - 2008 Masters of Arts (Sejarah), National University of Singapore. 2008 - PhD hadir (Antropologi & Sejarah), University of Michigan, Amerika Serikat.

Berbagai prestasi telah banyak dicapai oleh beliau baik itu dari naional maupun dari kanca internasional salah satu diantaranya Sertifikat Prestasi di Orasi, diberikan oleh Raja Khalid Islamic College of Victoria, Australia, Sertifikat Penghargaan di Pengakuan Voluntary Service ke Masyarakat, diberikan oleh Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, Albert D. Moscotti Best Paper Award, diberikan oleh Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Michigan, International Institute Individu Fellowship, diberikan oleh Institute International, University of Michigan, dan masih banyak lagi penghargaan dan pencapaian beliau selama menempuh pendidikannya.

Ismail Fajrie Alatas merupakan seorang humanis dan juga seorang habib yang dikenal dengan pemikiran intelektualnya yang menggabungkan antara sisi antropologi dengan agama. Tidak hanya itu, beliau juga merupakan kandidat doktor dari University of Michigan yang dalam kesehariannya dikenal sebagai orang yang santun dengan pola pikir majunya. Beliau pernah ditanya tentang tanggapannya mengenai keberadaan islam masa kini, beliau beranggapan bahwasanya islam kini berubah menjadi agama yang kaku dan rentang akan konflik yang disebabkan oleh pola tekstualitas yang dilakukan oleh banyak kalangan muslim dalam memahami Islam.

Dengan mengutip Al-Ghozali, pria yang akrab disapa Adjie ini memaparkan bahwa pada hakikatnya agama Islam merupakan agama yang bersumber pada hati dimana kelembutan, toleransi, keindahan, fleksibilitas, dan elastisitas terbentuk. Begitupun juga dengan Islam bahwasanya islam itu disampaikan dengan kelembutan yang serupa. Jika penyebaran agama Islam nyatanya disampaikan dengan pola pikir reaktif yang nilai-nilainya hanya bersumber dari akal, maka hal itulah yang menyebabkan adanya radikalisme di kalangan masyarakat, terlebih itu Islam.

Beliau juga banyak terinspirasi dan kagum akan sosok seseorang yaitu salah satu diantaranya Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa. Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa merupakan salah satu dari 40 murid Habib Umar bin Hafidz yang merupakan ulama yang dikenal dengan kepawaiannya dalam ilmu dan retorika. Habib Mundzir bukanlah merupakan anak ulama, ia tidak memiliki pesantren dan tidak memiliki tempat bernaung. Namun beberapa tahun pertama Habib Alawi Al-Aydrus memintanya untuk mengasuh majelis taklim di Cipayung. Namun sepertinya tetap ada kegelisahan di dalam diri Habib Mundzir. Ia sepertinya tidak memiliki tempat untuk berkiprah.

Tempat-tempat prestisius dalam gerakan dan intitusi dakwah telah diisi oleh anggota keluarga masing-masing. Seorang habib tanpa trah keulamaan yang kuat seperti dirinya seakan disisihkan oleh mereka yang telah memiliki tempat yang kokoh. Realitas demikian banyak terjadi di Indonesia. Seorang yang cerdas kembali ke tanah air dan tak mendapatkan tempat. Namun justru realita dakwah demikian, dengan mafia-mafia dakwahnya, membentuk figur Habib Mundzir yang siap mendobrak tatanan dakwah di Jakarta.

Akhirnya Habib Mundzir meninggalkan Cipayung dan mulai mengejar dari rumah ke rumah di kawasan Pasar Minggu Kalibata, Jakarta Selatan. Beliau membangun majelis kecil-kecilan tanpa tempat. Berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Dan akhirnya sebuah Masjid Pancoran membuka pintunya untuk majelis Habib Mandzir. Maka terbentuklah Majelis Rasulullah. Sesuatu yang dikerjakan serius dan telaten, akhirnya membuahkan hasil. Lambat laun jamaah beliau tambah banyak.

Bagi habib Mundzir sepertinya dakwah harus menjemput bola. Ulama harus proaktif mengikuti perkembangan zaman dan perubahan masa. Beliau bercerita pada saya bagaimana beliau rela mengikuti kritikan sebagian pengikutnya, agar mereka masih mau tetap belajar. Pada figur Habib Mundzir kita menemukan seorang da’i yang siap menuruti kehendak ummatnya selama itu baik, ketimbang selalu minta diikuti.

Pada akhirnya, Habib Mundzir mengajarkan pada kita bahwa dakwah bukanlah milik segelintir individu mapan. Dakwah adalah proyek bersama. Kita semua harus berdakwah, bukan hanya anak-anak para ulama dan pembesar agama. Anak-anak muda yang tidak dari kalangan pesantren juga turut serta. Anak muda ibu kota, kaya-miskin, terdidik-tidak terdidik, semua dapat ikut serta menjaga panji Rasul Saw. Habib Mundzir mengajarkan kepada kita bahwa mengikuti Sang Kekasih Saw. Tidak berarti kita harus bersikap keras dan intoleran. Justru dengan lemah lembut, santun dan budi pekerti yang baik, kita dapat menjadi duta-duta Sang Kekasih Saw. Untuk ummat manusia.

Selain itu Ismail Fajrie Alantas juga terisnpirasi dengan sebuah photo seorang pedagang buah-buahan yang mana tulisan di gerobak daganganya tertulis “Kayfa akhofu faqr wa ana abd Al-Ghany”, “Bagaimana aku akan takut dengan kemiskinan, sedang aku adalah hambah dari Yang Maha Kaya”. Beliaupun terharu ketika mendapat photo ini. Dan beliaupun mengabadikannya sebagai pengingat diri yang penuh dengan kelemahan. Semoga kelak, bisa lepas sama sekali dari segala ketakutan. Karena Dia yang Maha Segala, sejatinya senantiasa bersemayam di hati.

Penulis : Zeed Hamdy Rukman
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.