Minggu, 03 Juli 2016

Abid Hanifa Puspitowati


Abid Hanifa Puspitowa


Pesantren yang tak terlupakan
“Peran pendidikan di Pesantren memiliki pengaruh yang besar bagi para penerus bangsa, bagi para calon pemimpin negara di masa depan, karena pesantren mampu melahirkan ulama’ yang intelek dan intelek yang ulama’


Pada umumnya di kalangan santri yang telah menjadi alumni, keluar dari pesantren adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Terasa lama jika selalu dipikirkan, tapi terasa cepat jika ikhlas menjalaninya. Katanya, mereka merindukan alam yang bebas, tidak seperti di pesantren yang selalu diatur ke sana ke sini. Hal ini sangatlah bertolak belakang dengan pemikiran Pipit yang justru belum merasa puas hidup kurang lebih empat tahun di pesantren.


Nama lengkapnya Abid Hanifa Puspitowati. Lahir di Bogor, 27 Februari 1995, berdomisinil di Madiun, merupakan seorang yang berketurunan Jawa Timur asli dari pasangan Bapak Fatkhul Mudjib (Ponorogo) dan Ibu Surti Zaujiyah (Madiun). Tetapi walaupun dia berdarah jawa asli, tak jarang sulit untuk berbicara dengan bahasa jawanya. Sedikit cerita mengenai itu, pada suatu saat dia pulang dari pesantrennya dari Nganjuk menuju rumahnya di Madiun bersama seorang sepupunya. Setelah sampai di pemberhentian bus, mereka berdua berniat untuk menaiki dokar (bahasa jawa dari delman) untuk menuju rumah tepatnya di desa Joho. Setelah ditanya tarifnya, ternyata pak kusir menjawab “Selangkung nduk ayu”. Spontan mereka berdua yang sama-sama tidak begitu mengerti bahasa jawa saling bertatap muka dan bertanya-tanya. Karena gengsi untuk langsung bertanya kepada pak kusir, akhirnya pipit memberanikan diri untuk bertanya kepada seoarng penjual pulsa. Ketika dia bertanya selangkung itu berapa, si penjual pulsa menjawab sambil tertawa, mungkin sang penjual berpikir, gaya sekali anak ini, selangkung saja tidak tahu artinya. Ternyata selangkung itu 25 ribu. Ya itu singkat cerita.


Pipit merupakan salah satu alumni santriwati dari Pondok Modern Al-islam Nganjuk tahun 2014. Di pesantrennya, dia terkenal seorang yang pintar, tegas, cantik, sopan, sederhana, dan juga disegani di kalangan teman santrinya, karena dia juga sempat menjabat sebagai Koordinator bagian keamanan pondok putri di Organisasi Pelajar Pondok Modern Al-Islam dan juga sebagai koordinator seksi kegiatan di pramuka Brajamukti Al-Islam. Tak jarang banyak santriwan yang jatuh hati padanya. Prestasi yang pernah dia capai selama di pesantren adalah selalu berada di peringkat pertama selama kurang lebih 4 tahun nyantri di sana. Selain itu, pernah menjadi juara 1 KSM cabang PAI se-Kabupaten Nganjuk pada tahun 2011. Juara 1 KSM cabang bahasa Arab se-Kabupaten Nganjuk tahun 2012. Juara harapan 3 CCQ se-Kabupaten Nganjuk tahun 2013. Dan prestasi yang terakhir kali dia dapatkan di Al-Islam adalah menjadi wisudawan terbaik ke-2 tahun 2014.


Setelah keluar dari Al-islam niatan untuk meneruskan pendidikan di perkuliahan akhirnya tercapai. Sekarang ini, pipit menjadi salah satu mahasiswa prodi sastra Inggris di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jalur SBMPTN. Awalnya dia tidak yakin untuk masuk sastra Inggris, karena dia berpikir bahwa dirinya lebih mampu di sastra Arab. Tetapi, setelah menjalani perkuliahan selama kurang lebih dua tahun, akhirnya dia tersadar bahwa rencana Allah lebih baik dan lebih indah dari apa yang kita inginkan. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberikan apa yang kita inginkan. Dia sempat dipercaya untuk menjadi duta bahasa inggris antar asrama di UIN Malik Ibrahim.


Setelah dua tahun keluar dari pesantren, ia merasakan bahwa ilmu yang ia dapat di pesantren belum sepenuhnya melekat. Pipit sempat menyesal karena tidak bisa dan tidak suka membaca kitab kuning. Karena teryata di UIN Malik Ibrahim membaca kitab kuning itu masih di budayakan. Selain itu, ilmu-ilmu yang dia dapatkan ketika di pesantren, ternyata sangatlah bermanfaat ketika di bangku perkuliahan, seperti  Mustholah al-hadits, balaghoh, nahwu, shorof, tarikh at-tasyi’ di semester pertama. Yang paling besar dia rasakan manfaat ilmu dari pesantren adalah di bidang bahasa. Karena dia tinggal di Ma’hadnya UIN,  sistem yang diinginkan oleh pihak Ma’had  juga bilingual atau memakai dua bahasa, tetapi masih sulit untuk direalisasikan, maka dari itu hanya hari-hari tertentu yang diwajibkan untuk menggunakan bilingual.


Dari pesantren kemudian keluar menuju alam bebas, merupakan sesuatu yang menakutkan pada awalnya bagi pipit. Karena, melihat pergaulan remaja di era modern ini, takut tergeret arus remaja kekinian. Dia tersadar, akan hal itu tidak selamanya harus dia takuti, karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang saling mebutuhkan satu sama lain, tidak mungkin dia akan hidup menyendiri, atau men-sufikan diri di Malang. Yang terpenting adalah prinsip yang dia genggam, untuk selalu istiqomah berada di jalan yang benar.


Berbicara tentang pendidikan di pesantren, dia beranggapan bahwa, pendidikan pesantern itu adalah sangat penting bagi  para calon penerus bangsa yang berkarakter. Keunggulan yang didapatkan dalam pola pendidikan pesantren adalah sistem belajar 24 jam. Setiap hari para santri tidak pernah berhenti belajar. Entah ilmu apa saja yang dipelajari. Mengkaji dan mengkritisi kitab-kitab fiqih misalnya. Dan di satu sisi, belajar terjun ke masyarakat untuk melihat langsung kondisi masyarakat di sekitar. Seperti misalnya mengajar baca al-qur’an di TPA setempat, membina pramuka di sekolah-sekolah, dan lain sebagainya. Dengan itu, santri dibekali ilmu-ilmu untuk menghadapi konflik-konflik yang sedang terjadi di masyarkat.


Sistem pendidikan pesantren yang non stop itu telah terbukti mencerdaskan para santrinya secara utuh dan sempurna. Semua sasaran pendidikan sebagaimana yang diungkapkan Benjamin S. Blomm dalam kitab ushulutarbiyyah wa ta’limiyyah, yaitu kognitif (pikiran atau hafalan), afektif (feeling atau emosi), dan psikomotorik (tindakan) telah diimplementasikan dalam sistem pendidikanpesantren.


Bisa dikatakan demikian karena dalam pesantren, pengetahuan para santri diramu, dan disajikan dalam bentuk praktek dan pengalaman. Bahkan ketika seorang santri ingin dinyatakan lulus dari pesantren, terlebih dahulu harus mengikuti ujian praktek mengajar atau biasa disebut amaliyyah at-tadrisiyyah, di mana para santri ditahun akhir itu diharapkan dapat mengajar dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam ilmu pendidikan.


Maka dengan begitu, para santri pantaslah menjadi penerus bangsa yang berkarakter, diproduksi dari pesantren yang menghasilkan ulama’ berintelektual dan menciptakan intelektual yang ulama’ untuk menghadapi masa depan.


Penulis : Dewi Indah Dahlia

           
           


Share:
Posting Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.