Rabu, 15 Februari 2017

Datang




Aku menggeliat resah mulai detik saat mereka yang bersayap itu mengucapkan selamat datang padaku. Tubuh ringkih yang baru kukecap ini terasa sangat tidak nyaman. Kukedipkan mataku acap kali. Penglihatanku sayup-sayup menangkap sosok lain yang sama ringkih denganku.


“Si-a-pa-eng-kau?” Terbata-bata aku mulai merangkai kata. Mulutku kelu. Dia terlihat menggeliat, aku harap ia bisa mendengar suaraku. Namun nyatanya ia seolah kembali tertidur.


Hening kembali menjadi temanku. Terkadang suara kecipak air menjadi lagu pengantar tidur yang indah. Sayang, sosok itu tetap tidur seolah tak menyadari keberadaanku.


Dalam tiap detik waktu yang kulalui disini, sering kali aku berbahagia. Suara perempuan yang hangat akan terdengar. Disapanya diriku yang menjawab terbata-bata. Dielusnya manja puncak kepalaku.


“Siapa engkau? Dewi kah?” tanyaku suatu hari. Namun perempuan itu tak menjawab.


Setiap hari aku bertanya. Bertanya dan terus bertanya. Perempuan itu tetap diam, seolah tak bisa mendengar pertanyanku. Bosan, kulirik sosok serupa denganku. Matanya terbuka, menatapku malu-malu.


“Siapa engkau?” tanyaku lagi. Aku rasa pertanyaan ini adalah pertanyaan terbanyak yang kulontarkan.


“A-aku saudaramu” jawabnya pelan, malu-malu.
Seiring semakin sempurnanya anggota tubuhku, semakin banyak  pula hal yang aku ketahui. Perempuan bak dewi itu dipanggil Ibu. Bersamanya ada sosok ‘Ayah’ yang memanggilku dengan nada sama menyenangkannya dengan Ibu. Mereka berdua begitu menyenangkan. Bercerita tentang banyak hal.


Dunia diluar sana amat luas. Ada banyak orang yang bisa ditemui. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi. Bahkan ada banyak hal yang harus dicoba sendiri. Ayah sering bercerita tentang tempt kerjanya. Tentang ia yang amat bangga menjadi seorang guru yang dikelilingi banyak murid. Aku belum mengerti apa itu guru, apa itu murid. Namun aku yakin itu hal yang menyenangkan. Karena suara Ayah terdengar berseri ketika menceritakannya.


Ibu juga sering bercerita. Tentang betapa menyejukkannya berlindung dibalik pohon yang ada di pekarangan rumah. Tentang betapa indah dan senangnya Ibu melihat taman bunga yang ibu tanam tumbuh subur. Ibu juga sering bercerita tentang anak tetangga yang begitu menggemaskan. Ibu berkata agar nanti aku bisa menjadi teman baik dengannya. Aku mengangguk patuh.


Ayah dan Ibu juga sering bercerita bersama. Tentang televisi, internet, dan apalah itu. Aku penasaran. Aku penasaran !


Aku mulai tak sabar. Mereka yang bersayap memberitahuku bahwa waktuku untuk menyapa dunia sudahlah tak lama lagi. Darahku terasa terpompa keseluruh sudut, membuatku menendang-nendangkan kakiku sembarang arah, menyalurkan adrenalinku. Malah, kudapati Ibu tertawa. Bahkan Ayah ikut menyentuhku saat aku sibuk menendang tak karuan. Aneh, batinku.


Kulirik saudaraku. Ia terlihat tenang. Tak ada raut tak sabaran sama sekali dari wajahnya. Dibalik bulu mata lentiknya ia menatapku cemas.


“Wahai saudaraku, sungguh tempat ini adalah tempat yang amat nyaman” ucapnya, sungguh aneh ia duluan memulai percakapan.


“Benar saudaraku. Namun diluar sana ada dunia yang amat hebat. Kau juga mendengarnya dari Ayah dan Ibu bukan? Tidakkah kau berhasrat untuk segera melihatnya saudaraku?”


Lama ia terdiam, layaknya menimang sesuatu. Namun aku tahu ia belum selesai bicara.


“Tidakkah kau takut?” tanyanya ragu-ragu.


“Takut? Takut apa?” balasku tak mengerti.


“Ada banyak kelam di dunia sana saudaraku. Bukankah pemilik segala alam telah menyerukannya pada kita? Untuk terus bersaksi bahwa ia adalah penguasa? Bertanggungjawab akan segala ucapan dan tindakan kita?”


“Aku mengerti saudaraku. Namun tidakkah jua kau ingat? Kita hadir untuk tujuan itu. Hidup dan bersebaran di bumi pencipta, bersujud dan menghamba dimanapun diri berada”


“Aku takut saudaraku, tanggung jawab itu begitu besar. Kabar pertakut sungguh mengerikan”


“Tuhan tak hanya menyediakan kabar pertakut! Ia lebih banyak menyediakan kabar gembira! Bertawakallah saudarku! Kita akan menghadapi ini bersama” sepertinya ucapanku kali ini cukup meyakinkannya.


Senyap dan sepi sempat menguar antara kami. Tiba-tiba saja mereka yang bersayap datang, tersenyum ramah. Dikabarkannya akan dunia yang akan segera kami singgahi. Berkali-kali dielukannya tujuan utama kami berada disini. Diingatkannya berulang kali. Seolah sudah banyak orang yang lupa, hingga perlu kirnya ia ucapkan terus menerus.


“Tenanglah Wahai Engkau yang bersayap! Pegang janji kami. ucapkan salam pada pemilik sekalian bumi dan langit!” ucapku yakin. Saudaraku tersenyum ramah pada sosok bersayap itu, tak berujar sepatah kata pun.


Lalu mulai kudengar nada panik dari Ayah dan Ibu. Ayah segera membawa Ibu dan kami ke tempat yang bernama rumah sakit. Disana terdengar suara lebih banyak orang. Dadaku makin menggebu.


Namun kudapati Ayah mulai resah seketika Ibu makin merintih kesakitan. Apa aku menendang terlalu keras? Aku coba menenangkan saudaraku yang mulai terlihat gusar.


Mereka yang bersayap kembali datang. Bertanya sekali lagi. Aku mengangguk mantap.


Sayang, dalam diam saudaraku menggeleng. “Aku mengakui pencipta seluruh alam. Beriman akan kabar gembira dan kabar pertakut. Dan aku menyerahkan segala urusanku pada Nya. Namun jika memang aku diberikan kesempatan untuk memilih, izinkan aku kembali kini. Aku memilih pergi” ujar Saudaraku tegas. Jarang kudapati nadanya seyakin ini.


“Kenapa Saudaraku?” tanyaku setengah berteriak.


“Suatu hari kau kan mengerti. Sampaikan rasa cintaku pada Ayah dan Ibu yang tak sempat ku salami nanti Saudaraku!” jawabnya seraya keluar mendahuluiku, melihat dunia dengan mata yang sudah terpejam penuh.


Aku berteriak pada mereka yang bersayap. Mereka tak menjawab. Hanya membelai puncak kepalaku, berkata bahwa ini adalah pilihan Saudaraku, dan Yang Maha Pengasih mengabulkan itu. Tak lama aku mulai merasa ganjil. Tubuhku serasa terdorong keluar dari tempat yang nyaman ini. Mereka yang bersayap mengucapkan selamat jalan.


Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Udara terasa begitu dingin, tak sama dengan tempatku dan saudaraku dulu. Tangisku langsung pecah seketika sadar akan hadir Saudaraku yang telah hilang. Diputuskannya untuk pergi bahkan sebelum sampai disini.


Ibu langsung menggendongku, memelukku erat. Sedang Saudaraku dipeluk Ayah. Mereka yang bercahaya terlihat menungguiku. Sayang, kutemui bayangan hitam diantara mereka. Bentuknya menakutkan, menyeringai ke hadapanku.


“Selamat datang!!” ucap sang cahayadan kegelapan bersamaan. Keduanya sama tersenyum menyambut, mengulurkan tangan.


Hujanku makin deras. Saudaraku benar, ini semua benar menakutkan. Namun dalam belai Ibu aku menemukan kepercayaan. Ibu berbisik sambil menangis. “Ibu dan Ayah akan menjagamu Sayang”. Setelah itu aku baru bisa kembali tenang. Sayang Saudaraku tak disini.
 
END

Penulis : Matahari (Mahasantri UPI Bandung)

Share:
Posting Komentar
Diberdayakan oleh Blogger.